Sudut Pandang

Peta Hidup


Tidak ada kata ‘kesasar’ dalam hidup saya sejauh ini. Baik secara harafiyah ketika dalam melakukan perjalanan, maupun menikmati hidup. “Nemu jalan baru,” atau “Nyobain jalan yang beda,” itu alasan saya. Jadi biasa saja, malah asik seperti menemukan sesuatu yang baru, pemandangan baru, pengalaman baru. Tentu saja, cerita baru. Menyenangkan sebenarnya.

Nah, apakah ketika saya masuk kelas lagi itu juga ‘nyasar’?

Mungkin iya, tapi saya tidak akan mengklaim itu salah arah, salah jalan, atau lainnya. Kali ini saya ‘nyasar’ ke di jalan yang benar. Setidaknya, di pertemuan kedua kelas yang saya ikuti, saya disadarkan tentang penting peta. Ya, terutama peta hidup! Tentu ini belum ada aplikasinya, meski fungsinya mirip, menunjukkan arah, mengarahkan petunjuk. Bagaimana bisa, orang yang lahir di dunia, hidup puluhan tahun usianya, tak punya peta hidupnya. Tak tahu arah akhir tujuan hidupnya. Ini kan edan…

Jadi, di kelas yang diampu sama coach Faizal yang jauh lebih muda dari saya, hal penting pertama yang langsung mempengaruhi saya adalah ‘membuat peta hidup.’ Tampaknya sederhana, tapi ini sangat menggetarkan. Terus terang, saya jarang seemosial ini merancang sesuatu. Apalagi ketika ketemu kata kuncinya, “Mulai dari yang akhir…”

Ya, mulai dari yang akhir…

Sebagai muslim saya mengidentifikasi usia sesuai dengan junjungan besar dan teladan hidup terbaik, Rasulullah Saw. Beliau wafat di usia 63 tahun. Angka itu saya torehkan di noktah terakhir peta hidup yang saya buat. Lalu saya buat titik awal peta, dengan menuliskan angka usia saya saat ini. Merinding bulu kuduk saya, bergetar bibir saya, memanas mata dan mengalir bening air dari sudut mata. “Cukup nggak waktunya untuk berbekal pulang…”

Mati… itu kepastian semua makhluk yang bernyawa. Pilihan terbaiknya tentu husnul khatimah dengan banyak amal jariyah dan ilmu yang bermanfaat sebagai bekalnya. Terus, apa amal jariyah terbaik yang sudah dibuat? Apa ilmu yang paling manfaat yang sudah disemai? Seberapa banyak? Satu, dua, puluhan, ratusan, ribuan? Yakin? Bagaimana bisa yakin, kalau peta hidupnya saja baru ketemu dan mau dibuat saat ini. Tujuan hidupnya baru disadari hari ini.

“Jadilah manfaat,” itu pesan mendiang ibunda saya. Berulang kali saat beliau masih ada mengucapkan itu kepada saya. “Kamu nggak boleh mengeluh, capek, teruslah berbuat baik.” Ada sentuhan kecil, elusan tangan di rambut saya, atau tatapan yang teduh dan memberikan semangat. Mentranformasi daya, mengalirkan energi, meyakinkan bahwa, “Kamu bisa…” Potongan sketsa hidup ini, menemukan buah puzzle berikutnya di kelas yang saya ikuti hampir sebulan ini.

Jalan gelap bukan untuk dikutuk. Seperti masa lalu yang harus ada. Karena jalan gelap membangun keinginan kuat untuk terus melangkah menuju cahaya. Juga masa lalu yang menjadi pengantar, mengantarkan, dan menjembatani untuk sampai ke hari ini. Tentu hari ini, tetaplah sebuah perjalanan menuju cahaya yang lebih terang. Tidak ada langkah yang terhenti. Itu sebabnya, peta hidup harus dibuat saat ini.

Selebihnya, semua orang punya cara bagaimana menggenggam cahaya. Setidaknya, arah langkah kini semakin pasti. Perjalanan memang tak selalu gempita dalam riuh, kadang langkah panjang justru saat hening dalam sepi. “Ya Allah, izinkan sisa usia ini menujumu dengan segenap upaya lahir batin hamba yang terbaik. Bila berbuat maka itu manfaat, bila berkata maka itu makna, dan bila diam biarlah berkecamuklah doa-doa.”

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.