Story & History

Kisah Sebuah Kisah


Anak masjid

Saya lagi bercerita tentang kisah Qabil dan Habil ketika seseorang mencolek, memberi kode ada yang mau minta bicara. Saya angguki dan bilang, “Tunggu sebentar, saya selesaiin ini dulu.” Seseorang itu mangangguk lalu pergi. “Sampai mana tadi?” saya bertanya kepada anak-anak yang duduk melingkar sambil bersila. “Qabil menculik Iqlima…” jawab mereka kompak, saya senang berarti mereka menyimak. Segera saya selesaikan kisah Qabil bin Adam as, perilakunya membunuh Habil saudaranya, dan menyimpulkan hikmahnya.

“Sekarang kita jadi orang baik-baik saja. Syukur bisa mengajarkan kebaikan. Karena apa? Ada yang bisa jawab. Saya punya ini…” saya tunjukkan sebuah uang sepuluh ribuan. Biasanya saya membawa cokelat atau permen, tapi ini hari lupa jadwalnya berkisah. Lalu telunjuk saling berlomba. “Ditunjuk dulu baru jawab. Tidak berebut, saya tidak dengar. Nanti  jawabannya nggak kedengeran…”

Ada empat orang saya tunjuk. Jawabannya menarik. Ada satu jawaban yang menurut saya paling mendekati. “Karena barangsiapa mengajarkan satu kebaikan, maka ia akan mendapatkan satu pahala kebaikan dari orang yang mengerjakannya, tanpa mengurangi pahala orang yang mengerjakannya.” Yess… sepuluh ribu saya beralih ke anak yang pecinya sudah agak kusam. “Ada yang bisa melengkapi… buruan,” saya merogoh kantong celana lagi, saya ambil selembar sepuluh ribuan lagi.

“Barangsiapa mengajarkan keburukan…” seseorang langsung menyahut tanpa menunjuk, hingga teman-temannya ramai-ramai protes. “Nunjuk duluuu…” riuh bukan main. Saya hanya memberi tanda diam, lalu menyilakan anak lelaki yang duduk di ujung. “Ulangi… pelan saja, tidak usah buru-buru,” kata saya.

“Barangsiapa mengajarkan keburukan maka ia akan mendapatkan pahala keburukan seperti orang yang melakukan…” teman-temannya menyoraki sambil bersahut celetuk. “Pahala keburukan mana ada…”, “Ada juga azab…”, “Dosa kaleee…” Riuh. Saya tersenyum. Akhirnya saya urungkan untuk memberi uang sepuluh ribu padanya, tapi saya ganti lebih untuk dibagi ke semuanya. Mereka bersorak bahagia.

“Maaf, menunggu,” ketika saya menemui orang yang menunggu di teras masjid dekat tempat wudhu. “Ada kabar apa Pak?” tanya saya lagi, setelah duduk di sampingnya. Orang yang saya tuakan dan hormati. Pasti ada sesuatu yang penting kalau sampai dia memanggil saya. Deg-degan juga, jangan-jangan kebiasaan saya berkisah pada anak-anak seminggu sekali ini dengan membagi kesenangan berupa hadiah, kadang makanan, kadang uang, jadi masalah.

“Gini Mas, sudah denger belum? Soal kayu-kayu masjid yang jadi gazebo di sana…” dia menunjuk suatu arah. Saya menggeleng, saya memang belum tahu sama sekali. Saya belakangan jarang di rumah, dan jarang keliling komplek. Lalu dia cerita, dari awal sampai akhir. Saya menyimak tanpa menjeda hingga yang bersangkutan selesai cerita, selesai juga menyatakan sikap dan kekhawatirannya.

“Kalau sekarang mungkin mereka ada, Mas. Apa lima tahun lagi, berapa tahun lagi mereka masih ada. Masih bisa menjaga bahwa gazebo yang dibuat dari kayu-kayu masjid itu benar-benar berfungsi seperti yang mereka katakan. Kalau akhirnya, tempat itu jadi tempat main kartu, mungkin mabuk, atau berghibah tanpa mereka ketahui bagaimana? Walaupun soal usia itu wallahu ‘alam kehendak Allah. Tapi saya khawatir…”

Lalu dia bercerita banyak lagi. Soal kekhawatirannya tentu saja. Menjadi takmir masjid itu tidak mudah. Dari awal niatnya ibadah, di tengahnya juga ibadah dan sampai akhir juga niatnya ibadah. Dia khawatir soal amanah. “Berat Mas, ini amanah orang…”

Saya berusaha paham dan membuat gambaran sederhananya. Semua orang yang berinfaq ke masjid, pasti tujuannya untuk kepentingan dan keperluan masjid. Itu satu hal. Kedua, ketika infaqnya dibelanjakan dibuatkan sesuatu, maka kewajiban takmir telah sampai. Mewujudkan infaq seseorang untuk menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk masjid. Persoalannya, bila masjidnya di renovasi, ada kayu-kayu atau barang lain yang dibongkar bagaimana memperlakukannya?

“Ini barang infaq, bukan barang tidak terpakai. Insya Allah, kayu-kayu dan beberapa yang lain mau dilelang dan hasilnya untuk keperluan masjid lagi. Bagaimana, kalau kayu-kayu yang terlanjur diambil, diganti infaqnya saja… biar sama-sama selamat kita. Maaf ini hanya kedangkalan pengertian ilmu saya saja. Kalau nanti ada yang lebih sahih, ya gugurlah usul ini. Ini hanya soal berhati-hati saja… kehati-hatian menjaga amanah.”

Ingatan saya kembali ke kisah Qabil dan Habil. Bukankah kejadian demi kejadian itu selain ada hikmah, juga sebagai pelajaran agar kita lebih baik. Saya hanya mikir gampangnya, mereka sudah berumur, untuk apa bikin gardu, buat nongkrong? Kongkow? Apa nggak masuk angin… Kenapa nggak nongkrong (sambil dzikir, ngaji, atau berbagi ilmu) di masjid yang mereka sumbang juga? Hidup memang pilihan…[tef]

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.