Story & History

Cukup dan Secukupnya


20160712_142559            “Sehat, Pak…” sapa saya setiap menyalami Pak Trisno. Dia selalu menjawab dengan kalimat yang sama, Alhamdulillah. Tidak ada cerita dan kata-kata lainnya. Hanya itu. Dan satu lagi, tempat tegur sapa itu juga hanya di satu tempat. Di masjid. Ya, saya dan mungkin beberapa orang lain, hanya bertemu dia di masjid. Pak Trisno nyaris tak pernah absen shalat jamaah di masjid. Lima waktu dia ada, luar biasa.

“Pak Trisno berpulang…” kabar ini saya terima ketika berada dalam jarak ratusan kilometer. Saat saya berada dalam ruang yang penuh suka cita, banyak orang dan senyum serta tawanya mengembang memenuhi perjumpaan. Tempat saya mengantarkan anak saya menuju hidup baru, menempuh jalan sebagai istri dari seorang suami yang sudah dipilihnya, diyakini menjadi imam dalam setiap langkahnya.

Saya diam sesaat, mencari tempat. Mendoakan khusus buat Pak Trisno, sahabat saya, inspirasi saya. Beliaulah yang membuat saya iri, dan keluar kata-kata, memula dari batinan belaka namun akhirnya saya sampaikan ke istri saya, “Mungkin kalau tua nanti, saya ingin jadi marbot saja. Pengen banget kayak Pak Trisno, shalat jamaahnya terjaga…” Istri saya diam, mungkin aneh, mungkin tak percaya. Tapi akhirnya dia angguki. Toh, mungkin masih kapan tahu. Walau dia yakin, omongan suaminya sering sekali menjadi kenyataan, walaupun tampaknya disampaikan dengan tidak serius malah cenderung bercanda.

Pak Trisno orangnya diam, datang beberapa waktu sebelum waktu azan. Setelat-telatnya sesudah azan. Lalu ia tunaikan shalat sunah. Menunggu shalat jamaah, dia duduk khusyu terpekur dengan dzikirnya. Tenang sekali. Tempatnya selalu di shaf pertama, meskipun tak pernah persis di belakang imam. Setelah shalat, duduk diam lama dia. Bahkan saya sering sekali menjumpainya, pulang paling akhir di antara jamaah yang lain. Saya sering iri, membatin, “Allah sayang banget sama Pak Tris, masa tuanya lapang sekali hanya untuk ibadah. Ya Allah, izinkan saya kelak begitu.”

Tidak banyak pengetahuan saya tentang Pak Trisno. Ketemu ya di masjid, walau saya tahu dia tinggal di cluster dekat komplek. “Ikut anaknya, rumahnya malah di kontrakin, katanya lebih nyaman di sini, ke masjid lebih dekat dan nyaman.” Itu saja yang saya tahu. Selebihnya, bila ada kerja bakti di masjid, dia lebih asik dengan apa yang mesti dikerjakannya. Tidak banyak bicara, tidak banyak ngobrol, cukup fokus dengan yang mesti dilakukannya. Kalaupun istirahat, walaupun dalam kerumunan, nyaris tidak pernah ia ikut berbicara.

Setiap kajian Ahad bakda subuh, Pak Trisno adalah jamaah yang tak pernah absen. Pun dalam tahsin Sabtu pagi. Bersama yang lain, jamaah yang rata-rata sudah sepuh, hampir 60 tahun atau selebihnya, karena mereka sudah pensiun. Lelaki bertubuh kecil, kurus, dan cool itu ikut belajar tahsin. “Perkembangannya lumayan baik, beliau termasuk cepat dalam mengikuti,” kata jamaah lainnya memberi kesan tentang Pak Trisno.

Penyesalan saya bukan semata tak bisa berjumpa lagi dengan sosok Pak Trisno. Tapi saya menyesal sekali, terlalu angkuh hanya bertegur sapa belaka, tanpa pernah ngobrol lebih jauh. Saya kenal, tapi tidak mengenal. Saya tahu, tapi saya hanya sebatas mengetahui yang dhohir, yang terlihat belaka. Padahal, sesama muslim itu saudara. Bagaimana bisa saya disebut muslim kalau tidak bisa memperlakukan muslim lain sebagai layaknya saudara. Saya masih terlalu eksklusif, tak mampu mengenali orang terdekat, orang dekat, seorang yang sedang terus mendekat. Mendekat pada penciptanya.

Saya, juga beberapa jamaah lainnya juga tidak tahu kalau Pak Trisno ternyata menderita diabetes. Meskipun dari awal saya menduga, beliau memendam sakit. Langkahnya bila berjalan pelan, iramanya tetap. Tidak berderap, tetapi tertata dan teratur. Andai sebuah komposisi nada, ketukan atau biramanya konstan.

Sungguh, saya bersaksi Pak Trisno orang baik. Orang yang langkahnya dominasinya hanya dari rumah ke masjid, balik ke rumah, ke masjid lagi. Saya kehilangan teman, terutama orang yang selalu berada di shaf terdepan setiap shalat berjamaah. Saya kehilangan banyak, tapi saya ditinggali banyak. Pak Trisno pergi saat saya di tengah pesta, di mana tumpah ruah segala rasa bahagia. Kepulangannya ke haribaan Tuhan, adalah ayat terbaik buat saya, seolah diingatkan dengan ayat kauniyah ini. “Bahagialah secukupnya, senang jangan berlebihan.” [tef]

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.