Story & History

Kuliah ‘Nguping’


Pandemi memang membuat kebiasaan baru. Bukan hanya yang dianjurkan dalam protokol kesehatan, memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak saja. Tetapi di rumah juga banyak hal ‘ajaib’. Kalau yang anaknya sekolah, tentu ramai lah perihal pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau istilah kerennya school from home. Keseruan dan kerepotannya sudah banyak yang cerita. Demikian pula bagi yang kuliah, mereka pun harus masuk google classroom untuk setiap mata kuliah yang diikuti.

            Kalau dulu ada istilah santri ngalong, santri nguping, istilah untuk santri yang tidak mukim di pesantren, tetapi mengikuti kajian pada malam hari atau hanya sedia kuping untuk ikut mendengarkan. Nah, belakang hari ini saya sering ikut mendengarkan dan menyimak kuliah istri saya. Seru juga. Satu kelas ada 20-an orang, hampir semua perempuan, beragam usianya, ada ibu-ibu, ada mahasiswa milenial, ada yang sudah guru, ada yang sudah kepala sekolah. Atau karena itu Prodi Pendidikan Guru PAUD ya? Jadi satu-satunya laki-laki itu ya dosennya. Tidak sekali dua kali saya mengikuti dari awal sampai akhir. Untuk macam-macam mata kuliah yang namanya kadang membuat saya terpana, ‘ada ya, mata kuliah begini…’

            Sebelum pandemi, saat perkuliahan normal dengan tatap muka di kelas, jadwal kuliah istri saya memang siang sampai sore. Mungkin disesuaikan dengan jam longgar mahasiswa yang sebagian besar memang sudah berprofesi guru atau pengelola PAUD. Sesekali saja saya mengantar ke kampus atau menjemput kalau kebetulan ada agenda dekat tempat kuliahnya. Kalau pas malam minggu ya sekalian saja pakansi, makan atau nonton film. Soal kegiatan belajar dan dinamika perkuliahan saya tidak tahu sama sekali. Saya yakin sekali, suasana kuliah yang dialami istri saya saat ini, pasti berbeda sekali dengan ketika dia kuliah di Sejarah UNS Solo atau saat di Sastra Perancis Unpad Bandung dulu.

            Ikut nguping kuliah istri, bagi saya hiburan juga. Terheran-heran dengan nama-nama mata kuliahnya. Walaupun saya akhirnya menyadari, bahwa setiap jurusan memiliki kekhususan, kedetilan dan berhubungan dengan ilmu-ilmu lainnya. Misal mata kuliah Matematika dan Sains, Pendidikan Musik, Teater, dan yang lain. Saya ikut mendengarkan, menyimak dinamika tanya jawabnya. Karena melalui zoom meeting, kadang keriuhan di luar perkuliahan jadi lucu. Misal lagi serius ada suara anak nangis, anak-anak yang memanggil ibunya, atau wajahnya tiba-tiba ikut nongol. Kadang ada bising suara motor lewat, mungkin karena rumahnya dekat jalan raya atau dia sedang online di luar rumah.

            Terlepas dari itu, saya jadi ikut belajar. Pertama belajar memahami motivasi kuliah mahasiswa selain istri saya. Mereka kuliah di Prodi PAUD dengan berbagai motivasi. Karena ketertarikan dan cita-cita yang harus diwujudkan. Karena jalan pintas, karena selesai bisa kerja jadi guru PAUD. Karena tuntutan sistem, seperti istri saya yang harus menjadi sarjana PAUD karena mengelola Bintari Preschool. Atau yang penting kuliah dan tidak hanya lulusan SMA saja. Kedua belajar memahami latar belakang mereka, dari sisi ekonomi, keluarga, tempat tinggal hingga antusiasme keintelektualan. Hal yang harus dipertimbangkan secara matang bagi dosen ketika akan memberikan tugas-tugas kuliah.

            Dari beberapa kali ‘kuliah nguping’, saya merasa gusar pada satu hal. Saya harap kegusaran ini salah, yaitu rendahnya kegairahan membaca. Ambil contoh ketika ada dosen menugaskan membuat makalah tentang tokoh islam, biografi dan pemikirannya, alasan keberatannya menakjubkan. Salah satu alasannya, ‘Bukunya mahal Pak…’ dikasih solusi di perpustakaan kampus ada. ‘Jauh, Pak…’ Solusi berikutnya, di rumah saya ada, datang saja. ‘Malu lah, Pak…’

Indonesia adalah negara dengan minat baca rendah, satu level di atas Bostwana, sebuah negara di Afrika, paling rendah di Asia Tenggara, kalah dari Vietnam dan Thailand. Tetapi ‘cerewet’-nya bukan bukan main di media sosial, seperti yang diungkap dalam riset Semiocast yang berpusat di Paris. Riset lain menyebut rata-rata orang Indonesia menatap hape sembilan jam sehari, ‘membaca’ status, wa, dan medsos. Keindahan apakah yang kelak dinikmat di masa depan, malas membaca buku tapi cerewet di media sosial…  Pandemi tidak mampu membuat gairah membaca berubah. Minat baca tetap rendah. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.