Story & History

Guru Pertamaku


            Al ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq, begitu penyair Hafiz Ibrahim atau Muhammad Hafiz Ibrahim dari Mesir menulis. Ibu adalah madrasah (sekolah) pertama bagi anaknya. Jika seorang ibu itu baik, maka baik pula anaknya. Banyak yang mengutip syair ini, ada yang hanya sepotong, ada yang komplit, ada pula yang keliru menganggap kalimat ini ada hadits, ucapan Nabi Muhammad Saw. Syair berusia seratusan tahun ini, hidup dan relevan menembus batas waktu, meski penulisnya yang sering dijuluki Penyair Sungai Nil sudah tiada. Kekuatan tulisan, kekuatan kata-kata. Menembus zaman, ruang dan waktu.

            Teks ini saya temukan belakangan setelah dewasa. Bahkan setelah berumah tangga, mulai tertarik membaca buku-buku parenting. Menemani istri yang terjun langsung sebagai praktisi, mengajar dan mengelola taman kanak-kanak. Bukan hanya menemani membeli buku, tetapi menemani membaca, tetapi menemani berdiskusi dan memungkinkannya membuat konsep baru, semacam kekhususan di sekolah yang kami asuh. Kami, saya dan istri tentu saja. Syair ini, menarik untuk menjadi pijakan, baik memindai latar belakang anak dan ibunya, baik hubungan dan pola asuhnya, sekaligus pegangan bagi guru-guru pengasuh.

            Apakah ibu saya yang lahir di dua tahun sebelum proklamasi itu tahu syair ini. Saya tidak sempat mengonfirmasinya. Tetapi saya merasa, ibu saya adalah sekolah pertama dan terbaik. Dia benar-benar sosok ‘al madrasatul ula’ itu. Sekolah pertama saya, tempat  mendapatkan semua penjelasan dan pemahaman dari keserbapertamaan yang saya alami. Misal perihal rasa, manis gula itu perlu, tapi harus diimbangi. Tidak boleh terlalu banyak, maka kalau terlalu berlebihan mengkonsumsi gula, mau tidak mau harus minum jamu yang rasanya pahit. Karena pahit tidak enak, maka harus menjaga diri tidak berlebihan dengan manis. Kalau tidak terkontrol, maka yang pahit harus ditelan juga walau dengan paksa. Jadi pahit sesekali tak apa, karena itu diperlukan tubuh. Sehingga saya tidak terlalu maniak permen atau gula-gula yang produknya kian variatif bentuk, kemasan dan rasanya.

            Ibu memperlihatkan keteladanan dengan kegembiraan. Mencontohi penghayatan dengan menghadirkan kebanggaan. Kadangkala malah sepaket dalam satu perilaku yang melibatkan saya. “Mereka ini tidak ketemu lauk ini setiap hari, tidak bisa minta sama ayah dan bundanya. Kamu masih bisa makan sendiri nanti, sepuasnya. Kapan saja bisa minta dan pasti dibelikan. Nggak minta aja dibeliin kan…” kalimat ini diucapkan di awal-awal ingatan saya baru terbangun. Ada pelajaran simpati, empati, sekaligus penghayatan kesyukuran yang sangat transenden dan dalam sekali. Bahwa ada anak-anak yatim yang harus ditemani, dimuliakan, disantuni. Tidak mendoktrin atau berteori, tetapi saya dibawa serta, terlibat, menjadi bagian dari sebuah peristiwa. Tidak hanya sekali, tetapi berulang, berulang kali, berulang berkali-kali. Itu pemisalan yang lain.

            Semakin dewasa saya merasa betul, al madrasatul ula dalam diri ibu. Saya banyak mendapatkan jawaban, bukan hanya jawaban singkat berupa kata-kata untuk pertanyaan sederhana. Tetapi jawaban yang memikat, tanpa kata-kata, untuk pertanyaan sulit dan berat. Jawabannya sederhana, dicontohi, diajak serta, dilibatkan dan diperlihatkan seketika. Tanpa banyak bicara, tidak keluar dalilnya, tidak pakai cerita ini itu, atau mengiming-imingi sesuatu yang terkesan glorifikasi, melakukan ini mendapat itu, melakukan itu berbalas ini. Ibu saya seolah ingin memberitahu, kalau kamu bisa membuat gembira sekelilingmu, orang suka, Allah pasti suka. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.