Story & History

Gue Malu, Elu Nggak


            “Saya kecewa, lah…” jawab saya ketika seseorang bertanya, apakah kejadian yang secepat kilat itu selain bikin shock! Juga bikin saya malu, sedih. “Saya kecewa banget! Lebih kecewa lagi ketika yang bersangkutan tidak merasa bersalah, atau pura-pura tidak merasa bersalah.”

            Seperti membangun istana pasir. Apa yang dibangun sedemikian rupa, dengan segala rupa keringat, lelah, pikiran dan mungkin ada uang di situ. Hancur seketika, ya seketika dalam hitungan menit saja. Saya, membangunnya berbulan-bulan. Hampir enam bulan, dan hasilnya… “Mengecewakan!” kalau tidak disebut lainnya, memalukan! Enam bulan lho, saya hampir selalu pulang nyaris pagi, dini hari. Menemani, menjadi teman agar bisa tahu apa masalah di antara mereka semua. Dari miskomunikasi berbuah komunikasi harmonis. Dari yang kumuh tiada aura, menjadi petugas yang punya wibawa dengan tampilan yang menyakinkan. Tapi…

            “Saya itu tidak bisa menghukum, itu bukan tindak manusia pada manusia lainnya,” kata saya pada istri. Tapi kali ini menempel di pundak saya tanggung jawab lain, titipan amanat dari banyak orang, artinya saya diberi kepercayaan. Dan apa yang dipercayakan kepada saya ternyata tidak bisa dipertanggungjawabkan.

            “Mereka bak menyiram tai di muka saya…” bagaimana tidak, orang yang saya percayai, di mana semua orang menganggap dia orang baik, tetiba ada sebuah keadaan yang membuatnya dicokok di tempat kerjanya, tempatnya mencari uang, tempat dia berjibaku mencari nafkah. “Tapi kan nggak merugikan orang lain,” salah satu dari mereka berdua berkilah. “Nggak merugikan orang lain pala lu peang… Emak lu nangis-nangis, Bro! Kalau gue nggak inget emak lu temen emak gue juga bodo amat. Gue masih junjung tinggi adab, menghormati teman-teman orang tua kita. Begitulah adab berlaku setinggi apa pun ilmumu.”

            Setelah kejadian barulah semua membuka diri. Dia memang pemakai. Sudah lama. Kata seseorang yang menjadi teman jaganya. Lalu dia cerita kedua orang itu menggunakan kesempatan atas kepercayaan menjaga rumah kosong untuk pesta sabu. “Saya nggak ikut-ikut, tahu-tahu dia datang dengan temannnya itu.” Ada lagi yang bersaksi, dia memakai di kantor TK, sudah berkali-kali. Ada yang bilang lagi dia memakai samping posyandu. Atau di rumah kosong dekat lapangan. “Anaknya pernah lihat sih dia transaksi sama bandarnya,” kata seseorang. Edan inih…

            “Setahu Ibu, ya dia baik-baik saja. Kalo ke sini berdua paling langsung ke belakang, betulin listrik, betulin kipas angin, betulin mesin cuci, habis itu mereka berdua-dua pergi. Kalau di rumah ya paling pada mendem aja tuh di kamar, nggak tau ngapain, kata Ibunya yang satu lagi. “Sering Om, pakai kamar depan kalau Mbah pergi ngurut,” anak lelakinya mengaku dan mengaku benci sekali dengan perilaku bapaknya.

            “Saya itu kalau percaya orang ya percaya…” kata saya. Tentu banyak pertimbangan memercayai seseorang. Apalagi untuk tanggung jawab yang besar. Sekarang? “Pertimbangan yang bisa meluluhkan saya satu, saya manusia tidak mungkin menghukum manusia lain, biarlah masyarakat yang menghukumnya, toh UU juga sempat mencokoknya. Saya melihat orang tuanya, mereka sahabat ibu saya. Saya punya kewajiban menolongnya. Dari panjang lebar pembicaraan, ada tanggung jawab ekonomi yang harus ditanggung. Kalau tidak dari pekerjaan itu, dari mana lagi mereka dapat. Umur sudah besar, ketrampilan pas-pasan. Kerja tak lagi bisa diambil tenaganya. Kalah sama yang muda…”

            Persoalan dia mengkhianati kepercayaan yang saya berikan itu hak dia. Perihal dia memiliki banyak alasan untuk melakukan itu, banyak alasan untuk tidak menyesal, untuk tidak terlalu memikirkan orang lain di luar kepentingannya sendiri, itu menunjukkan kualitas karakter seseorang. Walhasil, saya kecewa, tapi saya harus bagaimana… “Cukup tahu saja, tidak semua yang tampak baik itu baik betulan. Bukan berarti pula yang tidak baik, itu baik juga. Banyak cara menguji karakter seseorang… Dan banyak cara alam menyeleksi, untuk mengumpulkan orang-orang yang satu frekwensi dan satu gelombang. Setidaknya, walau kecewa, saya berterima kasih, Allah tampakkan ini di awal…” [Tef]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.